Minggu, 07 November 2010

RENUNGAN AKHIR PEKAN DI NEGERI 1001 MASALAH



Orang tua dan sekolah paling khawatir jika anakyna tidak pintar. Kita tidak pernah khawatir jika anak kita tidak jujur dan berkarakter. Tidak ada tempat bagi raport anak disekolah untuk masalah karakter melainkan hanya sebatas kolom Alpha-Ijin dan Sakit. Ukuran karakter bagi anak kita adalah sebatas seberapa banyak dia Alpha dan Ijin.

Kita gencar melakukan Remedial bagi nilai-nilai anak kita yang merosot dibawah standar, namun kita tidak pernah sibuk melakukan REMEDIAL bagi Karakter anak yang dibawah tandar. Kita sibuk mengirim anak kita ke kursus dan les agar nilai kepintaran anak kita meningkat, tapi kita santai-santai saja melihat nilai akhlak anak kita yang merosot jauh dibawah standar.

Padahal kita sudah punya contoh yang "terang benderang", gamblang segamblang-gamblangnya tentang sebuah negeri, yg orang2nya pintar tapi tidak jujur dan berkarakter. Namun sayangnya kita masih tidak juga sadar. Raport zaman kita dulu bersekolah dan Raport zaman anak kita bersekolah sekarang masih sama saja, nilai karakter yang tercermin di raportnya masih sebatas kolom Alpha-Ijin & Sakit.

Dalam kehidupan nyata kita mendapati bahwa untuk bisa menjadi seorang pembantu rumah tangga saja agar bisa bisa di cintai oleh majikannya, yang dibutuhkan bukanlah KEPINTARANNYA melainkan karena ia JuJur dan Rajin. Jujur dan rajin adalah sebagian kecil saja dari unsur karakter. Jika anda Bos, saya yakin dan bisa di jamin pasti lebih suka memilih Assisten yang jujur ketimbang yang pintar tapi tidak jujur.

Tapi sayangnya mengapa kita belum juga sadar, bahwa dgn Karakter atau Ahlak orang bisa menjadi Besar, Terkenal & Panutan manusia sepanjang Zaman. Kita memuja dan memuji org yg berkarakter mulia ini disetiap doa kita, namun setelahnya kembali lagi fokus pertanyaan kita pada anak adalah berapa nilai ujian kamu dan bukan berapa banyak kebaikan yang telah kamu lakukan hari ini?

Kita rindu pemimpin bangsa yang berkarakter seperti Bapak Pendiri Bangsa ini, tapi bagaimana mungkin pemimpin yang seperti ini akan datang di negeri ini jika anak-anak kita terus di didik untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan bukan karakter yang mulia?? bagaimana mungkin ia akan hadir jika target2 sekolah dan Pengambil Kebijakan di Negeri 1001 masalah ini masih pada hasil ujian & nilai yg tinggi bukan akhlak yang tinggi dan mulia?

Semoga kita segera tersadarkan atas kekeliruan kita selama ini dalam mendidik putra-putri kita tercinta dirumah dan disekolah. Agar negeri ini bisa segera keluar dari 1001 masalah yang setiap hari terus mendera silih berganti tanpa jelas kapan akan berakhir.

Sumber: http://ayahkita.blogspot.com/2010/10/renungan-akhir-pekan-di-negeri-1001.html

Kamis, 04 November 2010

Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya. Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy (sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik. Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk, duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan. Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar. Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu. Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing. Duh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya. Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin, membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat” kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya. Duh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam, mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya. Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.


Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang  menyinari setiap hati anak-anak didik mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan.



Sumber : http://www.resensi.net/guru-dan-semangatnya/2009/06/29/

Belajar dari Anak HEBAT

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pengunjung yang HEBAT yang selalu mau belajar dari apapun dan siapapun.

Selasa, 2 November 2010 sekitar pukul 14.02 wib Nizar pulang dari kerja agak sore. Saat itu Nizar sempat berbincang-bincang pada anak HEBAT hingga pukul 14.20 wib dan akhirnyapun Nizar niatkan untuk pulang. Saat mau naik motor ada siswa HEBAT yang menawarkan untuk diantar pulang karena jalan kaki maka Nizarpun mengantarkannya.

Kesempatan ini Nizar manfaatkan untuk bertanya kepada Anak HEBAT tersebut, kenapa?

Saat Anak HEBAT tersebut masih kelas empat dia sering marah dan emosinya sering diluapkan dalam sebuah aktifitas atau ucapan yang tidak tepat. Tetapi setelah kelas lima dia jarang atau dapat dikatakan tidak pernah marah atau berbuat emosi malah semakin santun. Dari pertimbangan tersebut maka Nizar sempatkan untuk bertanya tentang cara dia dalam pengelolaan hati agar tidak marah. Alhamdulillah diapun mau untuk memberikan tipsnya.

Semoga tipsnya dapat bermanfaat bagi Nizar dan pengunjung HEBAT yang mudah meluapkan emosi dalam kemarahan. Tips itu adalah

  1. Menghela nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan.
  2. Membaca istighfar sebanyak-banyaknya meski dalam hati
  3. Diam
  4. Jangan mengingat suatu kesalahan yang terjadi
  5. Hadapai dengan senyuman

Semoga dapat bermanfaat bagi Nizar dan pengunjung HEBAT.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Fahma dan Hania, Bocah si 'Juara Dunia' Aplikasi dari Bandung

AmruSite, Sabtu, 30 Oktober 2010

Bandung - Berawal dari kecintaannya kepada sang adik Hania Pracika Rosmansyah (6), Fahma Waluya Rosmansyah (12) membuat aplikasi. Beberapa aplikasi edukasi dibuatnya untuk membantu adiknya belajar.

Usianya memang masih belia. Tapi karya mereka telah mendunia. Keduanya sukses menjadi juara dalam ajang 10th Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA) 2010 untuk kategori Secondary Student Project, yang diselenggarakan di Malaysia, 12-16 Oktober silam.

Semuanya bermula dari mimpi dan kecintaanya kepada adiknya. Demikian ungkap Fahma saat berbincang dengan detikINET di rumahnya di Jalan Bukit Ligar No 19, Jumat petang (29/10/10).

"Saya sayang adik saya. Walaupun dia terkadang rewel. Apalagi kalau tidak ada maianan, dia selalu minta dibuatkan mainan. Dan dia sangat suka mainin hape punya ibu. Jadi saya buat aplikasi buat hape yang bisa dipakai dia dan buat dia belajar," tuturnya.

Dari Animasi dan Game

Kehebatan Fahma mengutak-atik komputer bukan tanpa sebab. Menurutnya, asal muasal ketertarikan akan dunia animasi dan game dipicu dari mimpinya menjadi seorang animator dan programer setiap dia menonton animasi atau main game,

"Jadi setiap saya nonton animasi atau lihat game saya bermimpi kalau saya yang buat. Saya bilang sama ibu, seru kayanya kalau saya bisa buat animasi atau aplikasi sendiri," katanya penuh percaya diri.

Dari situlah Fahma kemudian mulai belajar mendesain dan membuat aplikasi edukasi. Berawal dari buku pemberian Yusep Rosmansyah, Fahma kemudian serius menekuni hobi barunya.

"Dari kelas 4 SD saya mulai belajar membuat aplikasi. Awalnya coba-coba sendiri di komputer. Terus dikasih buku sama ayah. Dari buku terus coba-coba lagi. Akhirnya tahu shortkey. Dan akhirnya bisa membuat aplikasi, animasi dan presentasi," ungkapnya bangga.

Cukup 10 Menit

Dalam membuat aplikasi, peranan Hania sang adik juga tidak kalah besar. Dia menjadi tester dan pengisi suara bagi aplikasi buatan kakaknya.

"Eh, kak. Aku yang isi suaranya loh," celetuk Hania.

"Iya, semua aplikasi dan game buatan saya untuk adik saya belajar. Karena setiap saya buat aplikasi itu harus ada filosofinya," tambah Fahma.

Jawaban Fahma membuat detikINET penasaran akan kemampuannya. Tanpa ragu-ragu dia pun menawarkan diri untuk membuat aplikasi.

"Kakak mau aplikasi apa. Saya bisa buat dalam 10 menit," katanya.

Dengan cekatan, dia pun langsung membuka aplikasi Adobe Flash CS 3, software yang biasa dia gunakan untuk membuat aplikasi. Lincah jari-jarinya menggerak-gerakan mouse. Membuat sketsa dan memasukan beberapa script. Hebat. Dalam waktu kurang dari 10 menit, sebuah aplikasi sederhana tentang jenis-jenis hewan, suara dan ejaan namanya pun rampung.

"Biasanya saya pakai Flash dan Photoshop untuk desainnya. Ini aplikasi untuk membantu anak-anak kecil mengenal jenis hewan. Kan mereka cuma tau gambarnya, tapi tidak tahu suaranya seperti apa. Ditambah juga ejaan nama hewan ini," terangnya.

Tak mau kalah, si adik pun unjuk gigi. "Aku juga bisa," katanya sambil menenteng laptop.

"Aku udah bikin 8 aplikasi. Kakak mau lihat," katanya.

Aplikasi Edukasi

Dalam ajang APICTA 2010, keduanya mempresentasikan aplikasi yang namakan "My Moms Mobile Phone As My Sisters Tutor" (Telefon Seluler Ibuku untuk Belajar Adikku). Ada 3 aplikasi yang diciptakan Fahma. Aplikasi tersebut adalah English for Children (Enrich), Matematika Anak Pintar (Mantap) dan Belajar Huruf, Angka dan Warna (Banana).

"Enrich adalah sebuah kamus sederhana bahasa Inggris untuk anak-anak. Mantap itu untuk belajar matematika dan Banana untuk belajar mengenal huruf, angka, dan warna," jelasnya.

APICTA sendiri adalah kompetisi software antarnegara. Selain menyabet juara untuk kategori Secondary Student Project, mereka juga mencatat rekor sebagai Youngest OVI-Nokia Developer.

"Saingannya dari SMA dan kuliahan. Kita sendiri yang masih anak-anak. Dan kita harus presentasi dalam bahasa inggris. Deg-degan, tapi alhamdulilah kita yang menang," tukasnya.


sumber: http://www.detikinet.com/read/2010/10/30/080659/1479411/398/fahma-dan-hania-juara-dunia-aplikasi-dari-bandung/?i991103105

Selasa, 26 Oktober 2010

Belajar dari Seorang Nenek ?

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pengunjung HEBAT yang selalu belajar dari hal yang ada di sekitar dan di hadapan.

Pada kesempatan ini Nizar ingin membuka hati pengunjung HEBAT dengan sebuah pembelajaran yang Nizar dapatkan pada hari ini (Selasa, 26 Oktober 2010 pukul 16.23 wib).

Sewaktu Nizar pulang dari kerja tanpa sengaja melihat sosok wanita berkerudung, bungkuk, dengan tongkat di tangan yaitu sosok nenek yang HEBAT. Kenapa? Karena dengan tubuh yang lemah dan penuh keterbatasan tersebut ternyata tidak membuat nenek HEBAT tersebut untuk melakukan hal yang kecil tetapi LUAR BIASA manfaatnya.

Coba bayangkan nenek tersebut mengambil batu yang tajam seukuran telapak tangan orang dewasa (Saya lihat sendiri di bagian sudutnya sangat lancip dan kasar) . Mungkin itu hal yang kecil tetapi mempunyai manfaat yang BESAR. Kenapa ? Coba bayangkan?
  1. Andai batu tersebut masih di jalan, apa yang terjadi jika ada kaki anak kecil menginjaknya?
  2. Apa yang terjadi jika ada motor yang melindasanya?
  3. Apa yang terjadi jika ada mobil melindasnya?
  4. Apa yang terjadi jika ada orang melempar batu itu tanpa sengaja mengenai seseorang?
  5. Apa yang terjadi saat batu tersebut terpental oleh sentuhan ban kendaraan sehingga mengenai seseorang?
  6. Dan masih banyak kemungkinan hal lain terjadi.
Meskipun perbuatan itu kecil tetapi sangat besar manfaatnya karena dapat mencegah hal-hal yang kemungkinan terjadi.

Pengunjung yang HEBAT maukah untuk melakukan perbuatan yang kecil tetapi sangat bermanfaat untuk orang lain. Misalkan mengambil sampah yang tidak pada tempatnya, mengambil jarum/duri/benda yang tajam selanjutnya diletakkan ke tempat yang aman?

InsyaAllah kalau kita mau melakukannya hidup ini akan terasa indah dan bahagia.

Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Rabu, 20 Oktober 2010

Ibu Selalu yang Terbaik

Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.

"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.

"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.

"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."

Putri pun segera duduk di dalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.

"Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."

"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."

Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,

"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."

"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.


Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.

Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

Sumber:http://www.lintasberita.com/go/1399206

Renungi Ini, Kamu Pasti Menangis...

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Untuk memotong rumput Rp. 5000 Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000 Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000 Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000 Untuk membuang sampah Rp. 1000 Untuk nilai yang bagus Rp. 3000 Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000 Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya. ”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS” (Pernahkah kita dapat melunasi semua jasa ibu dan pernahkah ibu kita meminta imbalan dari setiap jasanya? Renungkanlah!)

======
Pengunjung HEBAT, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….

Sumber:http://www.lintasberita.com/go/1399206